Senin, 10 Agustus 2009

TUNTUNG PANDANG


Rasanya baru kemaren, aku dan kakakku, Rakimi, berlarian kecil di jalan setapak pembatas sawah kemudian terjatuh, tertawa gelak saat berulang-ulang memutar kaset type ceramah Zainuddin MZ, bercanda akrab yang akhirnya bertengkar, dan menangis bergantian saat tidak bisa lancar membaca Al-qur'an kemudian dimarahi abah kami.


Rasanya baru kemaren.


Namun hari ini kami sudah ber'kepala dua'. Kakakku 23 tahun dan aku dua tahun lebih muda. Usia yang layak menyandang gelar 'dewasa', dimana seseorang pria sudah dituntut untuk bisa lepas dari pengawasan orangtua tanpa keluar dari jalur keharusan moral beretika dan beragama.


Dan tepat tanggal 14 agustus besok kakakku akan menikah. Pilihan yang harus dia ambil tanpa mengacuhkan resiko berumah tangga tanpa pekerjaan tetap, masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta, dan masih menumpang di rumah orangtua ataupun mertua.


Kabar yang sangat membahagiakan bagiku. Meskipun aku tidak bisa pulang menghadiri acara pernikahannya Sya'ban ini, namun do'a teriring terurai selalu semoga tuntung pandang (langgeng) dan cepat memberikan cucu pertama buat orangtua kami yang sering 'meminjam' anak tetangga sebagai hiburan di rumah.


Tak mau kalah, adikku yang pertama, Rini santi, akan menyusul di belakang.

Pertengahan bulan ramadhan ini - insya Allah - dia juga akan menikah dengan seorang temanku yang sudah menyelesaikan studinya di Yogyakarta dan kemudian mereka akan tinggal di Jogja - tepatnya Bantul - karena calon suaminya akan meneruskan kuliah kembali di Jogja.

Menikah di usia 19 tahun memang bukan pilihan utama bagi adikku ini jika abah kami masih bisa membiayai kuliahnya yang sempat masuk dan merasakan masa Ospek di Universitas Muhammadiyyah Magelang selama seminggu. Tapi itulah hidup. Hidup adalah pilihan, dan memilih artinya mengorbankan salah satu.



Walaupun aku tidak bisa hadir pada acara pernikahan mereka berdua, insya Allah akan tetap bisa bertutur sapa pada walimah (resepsi) pernikahannya pada bulan Syawwal setelah Hari raya idhul Fitri. Alhamdulillah...


***


"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS. Yasin:36)


"Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, membarokahi mereka berdua, meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat"
(Do'a Rosulullah SAW, pada pernikahan putri beliau
Fatimah Azzahra RA
dengan Ali bin Abi Tholib RA)



Selasa, 21 Juli 2009

SURGA ITU SAAT KAU MELIHAT DIA TERSENYUM

Aku adalah anak kedua dari empat bersaudara pasangan Jamaluddin dan Mariyani. Abah(ayah)ku seorang guru agama di sebuah Sekolah Dasar. Beliau adalah ayah yang paling baik untukku, karna aku tidak mempunyai ayah lain selain beliau. Dan ibuku (tanpa kata 'hanya') seorang ibu rumah tangga yang sesekali turun ke ladang apabila musim bercocok tanam tiba. Wanita yang seringkali menelponku barang sebentar sekedar menyapaku dengan panggilan sayangnya, dan selalu mengingatkanku untuk memotong rambut panjang ini. Mereka berdua adalah guru pertamaku yang jauh sebelum Andrea Hirata mengarang novel berjudul "Laskar Pelangi" sudah mengajarkan kepadaku dengan teladan yang diberikannya, bahwa "hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya".

Aku tumbuh dalam lingkup keluarga yang Islami. Islami dalam artian yang sesungguhnya. Dimana pendidikan agama dan moral tidak hanya ada pada lantai pondok pesantren dan karpet mushalla, melainkan berawal dari diskusi ringan seputar masalah2 akidah, ibadah, akhlak sampai muamalah selepas makan malam bersama, dan pendidikan praktis yang mereka contohkan setiap hari.

Keluarga kami bahagia. Bukan orang kaya, tapi tidak mau dikatakan miskin. Hidup sederhana, itu yang slalu ditanamkan oleh orangtuaku. Dulu, aku pikir memberikan uang jajan sekolah di bawah UJM (Uang Jajan Minimum) rata2 anak sekolahan merupakan salah satu bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan orangtua terhadap anaknya. Namun belakangan aku sadar betapa bermanfaatnya pola didikan mereka tersebut terhadap gaya hidupku di masa yang akan datang. Walaupun aku tau bahwa salah satu penyebabnya adalah karna mereka memang tidak mempunyai uang lebih.

Dan apapun yang mereka lakukan selama ini, takkan habis doaku senantiasa tercurah untuk mereka:

"Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku aku waktu kecil."
(QS.Al-Isra' : 24)

Sangat benar jika Allah menyuruh orang2 yang beriman untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya, karena memang sepantasnya hal itu kita lakukan. Bukan dengan motif sebagai balas jasa terhadap apa yang pernah mereka lakukan, namun dengan niatan ikhlas sebagai wujud rasa syukur kita terhadap karunia Allah, Dzat Maha Mulia yang nyawa kita ada di tangan-Nya.

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."
(QS.Al-ISra' : 23)



Kau gantungkan keyakinan penuh di pundak kiri dan kanan ini akan kebaikan dan harapan. Meski berat, tetap ku pikul dengan senyum saat kulihat wajahmu memberi semangat. Semoga kita dikumpulkan kembali di dalam Surga yang mengalir sungai di bawahnya. Amin...

...