Rasanya baru kemaren, aku dan kakakku, Rakimi, berlarian kecil di jalan setapak pembatas sawah kemudian terjatuh, tertawa gelak saat berulang-ulang memutar kaset type ceramah Zainuddin MZ, bercanda akrab yang akhirnya bertengkar, dan menangis bergantian saat tidak bisa lancar membaca Al-qur'an kemudian dimarahi abah kami.
Rasanya baru kemaren.
Namun hari ini kami sudah ber'kepala dua'. Kakakku 23 tahun dan aku dua tahun lebih muda. Usia yang layak menyandang gelar 'dewasa', dimana seseorang pria sudah dituntut untuk bisa lepas dari pengawasan orangtua tanpa keluar dari jalur keharusan moral beretika dan beragama.
Dan tepat tanggal 14 agustus besok kakakku akan menikah. Pilihan yang harus dia ambil tanpa mengacuhkan resiko berumah tangga tanpa pekerjaan tetap, masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta, dan masih menumpang di rumah orangtua ataupun mertua.
Kabar yang sangat membahagiakan bagiku. Meskipun aku tidak bisa pulang menghadiri acara pernikahannya Sya'ban ini, namun do'a teriring terurai selalu semoga tuntung pandang (langgeng) dan cepat memberikan cucu pertama buat orangtua kami yang sering 'meminjam' anak tetangga sebagai hiburan di rumah.
Tak mau kalah, adikku yang pertama, Rini santi, akan menyusul di belakang.
Pertengahan bulan ramadhan ini - insya Allah - dia juga akan menikah dengan seorang temanku yang sudah menyelesaikan studinya di Yogyakarta dan kemudian mereka akan tinggal di Jogja - tepatnya Bantul - karena calon suaminya akan meneruskan kuliah kembali di Jogja.
Menikah di usia 19 tahun memang bukan pilihan utama bagi adikku ini jika abah kami masih bisa membiayai kuliahnya yang sempat masuk dan merasakan masa Ospek di Universitas Muhammadiyyah Magelang selama seminggu. Tapi itulah hidup. Hidup adalah pilihan, dan memilih artinya mengorbankan salah satu.
Menikah di usia 19 tahun memang bukan pilihan utama bagi adikku ini jika abah kami masih bisa membiayai kuliahnya yang sempat masuk dan merasakan masa Ospek di Universitas Muhammadiyyah Magelang selama seminggu. Tapi itulah hidup. Hidup adalah pilihan, dan memilih artinya mengorbankan salah satu.
Walaupun aku tidak bisa hadir pada acara pernikahan mereka berdua, insya Allah akan tetap bisa bertutur sapa pada walimah (resepsi) pernikahannya pada bulan Syawwal setelah Hari raya idhul Fitri. Alhamdulillah...
***
"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS. Yasin:36)
"Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, membarokahi mereka berdua, meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat"
(Do'a Rosulullah SAW, pada pernikahan putri beliau
Fatimah Azzahra RA dengan Ali bin Abi Tholib RA)
Fatimah Azzahra RA dengan Ali bin Abi Tholib RA)

